Suami-Suami Penuh Gelora

1
ilustrasi @puteriayudehearty

Lelaki ini memulai kisahnya dengan berkata, “Saat belum mendapatkan pekerjaan, saya yang mencuci baju istri dan anak-anak.” Lanjutnya, “Istri sayalah yang bekerja.” Ia tidak malu, dan terus berusaha hingga mendapatkan pekerjaan yang layak. Kini, Allah Ta’ala memberikan balasan terbaik atas semua usahanya.

Bisnisnya berjalan lancar dan berkah, banyak anggota keluarga dan teman-teman yang dihadiahi qurban saat ‘Idul ‘Adha, dan juga pergi umrah ke Tanah Suci. Sosok yang sudah bisa menaiki tunggangan sekelas Pajero Sport, Mobil BMW, dan Jeep Rubicon ini juga sering berbagi al-Qur’an ke lembaga pendidikan Islam di banyak tempat, dan wakaf masjid atas nama ayah dan ibunya.

Apakah usahanya berkembang seperti tukang sulap dalam sekali “bim” lalu “salabim”? Tidak! Dia memulainya dari minus, belajar sambil jalan, lalu berlari, hingga seperti saat ini. Semuanya berproses, naik-turun, hingga berdarah-darah. Bahkan, ia pernah mendekam di balik jeruji besi selama tujuh bulan lantaran fitnah dari rekan bisnisnya.

Di antara gelora yang dimiliki oleh bapak yang kini baru memiliki dua anak ini, adalah semangatnya. Dulu, berdasarkan kisah dari istrinya, saat mereka masih menaiki motor butut pinjaman dari kakaknya, lelaki ini tak pernah sedikit pun pesimis.

Saat istri yang memeluknya mesra dari belakang jok motor mengatakan, “Yah, mobil itu bagus ya?”, laki-laki ini hanya menjawab singkat penuh optimis, “Ya. Insya Allah, nanti kita beli.” Pun jika yang disebutkan oleh sang istri adalah gedung, rumah, dan lain sebagainya. Jawabnya selalu, “Insya Allah, nanti kita beli.”

Lalu, dalam sebuah sesi diskusi dengan keluarga dan keponakan-keponakannya, laki-laki ini selalu mengatakan, “Jadikan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya tempat cerita. Jika hendak melakukan kebaikan, termasuk eksekusi bisnis, selalulah minta petunjuk dengan shalat sunnah.”

Selalu seperti itu. Kemudian, “Kerjakan jika yakin. Dan, segera tinggalkan jika ada keraguan yang masuk ke dalam hatimu.”

Hal lainnya, murah ilmu. Jangan semuanya dinilaikan dengan rupiah. Jika perlu, bagikan ilmu secara gratis. Jangan selalu kurskan amal dengan dunia. Sebab, katanya, “Balasan Allah Ta’ala adalah yang terbaik.”

Seperti inilah suami-suami penuh gelora. Ia tak pernah putus asa. Diamnya adalah berpikir, amalnya adalah upaya sungguh-sungguh untuk menggapai derajat yang tinggi di sisi Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala kurniakan keberkahan kepada hidup dan usahanya. Aamiin. [Pirman/Keluargacinta]

1 KOMENTAR

Comments are closed.