Terpaksa Melamar


Kabar ini tak bisa ditutupi dari tetangga dan keluarga jauh si laki-laki. Setelah malam harinya dia mendapatkan bogem mentah dari ayah wanita yang dia cintai saat berkunjung rutin di malam minggu, keributan kembali terjadi di siang harinya.

Mulanya salah faham. Saat si laki-laki bertandang ke rumah wanita untuk berpacaran, suasana hujan deras. Si laki-laki yang mengendarai motor keren milik bapaknya itu kehujanan. Sebagian bajunya basah. Sebab tak nyaman dan dalih menghindari masuk angin, si laki-laki dua puluh empat tahunan ini berinisiatif melepas baju.

Di hadapannya, si wanita tengah memperhatikan seraya senyum-senyum. Senyum khas orang pacaran yang tak berdosa, padahal rekening salahnya terus bertambah.

Ketika itu, ayah tiri si wanita yang tinggal di rumah gubuk itu melihat si laki-laki tanpa baju. Dibakar emosi yang entah kapan mulanya, laki-laki ini dihajar. Tanpa konfirmasi. Begitu saja. Dipukul habis-habisan dan si laki-laki berupaya kabur. Meski sia-sia.

Beruntung, keributan itu dicium oleh orang sekitar, termasuk ketua rukun tetangga yang rumahnya tak jauh dari rumah si wanita. Dilerai. Didamaikan. Si laki-laki disuruh pulang. Diusir. Malam minggu yang kacau, bagi si laki-laki.

Siang harinya, sang ayah tiri segera meluncur ke rumah si laki-laki. Bertemu dengan orang tuanya. Setelah menumpahkan seluruh sumpah serapahnya, ayah tiri ini menyampaikan tuntutan yang amat jelas dengan nada menantang. “Segara nikahi anakku!”

Berselang hari kemudian, dibakar rasa malu, orang tua si laki-laki bergegas mengumpulkan keluarganya. Mendatangi rumah si wanita dan keluarganya. Melamar. Bawaannya, emas sepuluh gram dan uang tunai sepuluh juta.

Kisah ini nyata. Kami menjadi saksi. Betapa lamaran itu sangat tak bernilai sakral. Hambar. Tiada keakraban dan niat tulus. Si laki-laki dan keluarganya datang dengan sombong dan bawaan harta dunia, sedangkan si wanita dan keluarganya langsung menerimanya tanpa malu, tanpa syarat, dan sedikit sekali harga dirinya.

Sedikit menelisik, si laki-laki memang tergolong ‘berani’ dalam berhubungan. Selain berkunjung saban malam minggu, rupanya mereka biasa berciuman di jalan sebagaimana kesaksian orang yang pernah melihatnya.

Kami menjadi semakin miris, ketika tahu bahwa si wanita merupakan siswi kelas tiga sekolah menengah atas.

Ya Allah, ampuni kelemahan kami dalam mencegah maksiat di dalam diri, keluarga, dan lingkungan kami. Aamiin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]