Rumah Tangga

Tiga Kondisi yang Membuat Suami Berpahala Jihad

Jika Anda seorang lelaki dan sudah menikah, berbahagialah mendengar kabar gembira yang tak ada dustanya ini. Kabar gembira dari nabi Muhammad tentang seorang lelaki atau suami; jika mereka melakukan tiga hal ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan, “Maka ia terhitung jihad fi sabilillah.”

Berikut kami sarikan tiga keadaan ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani.

Keluar Rumah untuk Mejemput Rezeki bagi Anaknya yang Masih Kecil

Ada orang yang takut menikah lantaran pusing memikirkan bab rezeki. Dalam logikanya, “Hidup sendiri saja susah, apalagi menghidupi istri, dan kelak jika memiliki anak di awal pernikahan.” Padahal, Allah Ta’ala menjanjikan, jika seseorang fakir, lalu menikah; maka Allah Ta’ala akan mencukupi kebutuhannya.

Apalagi jika sudah memiliki anak, maka jumlah rezekinya pun semakin berlipat ganda. Sebab, Allah Ta’ala menciptakan seluruh makhluk-Nya lengkap dengan jatah rezeki hingga akhir hayatnya.

Maka jika Anda menjadi seorang ayah bagi anak yang masih kecil, bergegaslah dengan semangat untuk menyambut karunia Allah Ta’ala. Sebab dalam upaya yang Anda lakukan itu, Allah Ta’ala akan menghitungnya sebagai jihad di jalan-Nya.

Berupaya Menyambut Rezeki untuk Orang Tuanya yang Lanjut Usia

Adalah sebuah siklus yang tak bisa dinafikan; balita, anak-anak, remaja, dewasa, tua, lanjut usia, wafat. Maka sepanjang proses itu, rezeki bagi seseorang akan senantiasa terjamin. Baik melalui upaya sendiri, atau dititipkan kepada orang lain.

Sewaktu masih balita hingga sebelum baligh, rezeki bagi sang anak dititipkan kepada orang tua atau keluarga yang lain. Sebaliknya, ketika orang tua memasuki usia lanjut, maka Allah Ta’ala menitipkan rezeki baginya melalui anak-anaknya.

Karena itu, jangan zalim. Dalam setiap rezeki yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada Anda, ada hak bagi orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan Anda hingga sekarang ini. Apalagi jika lakukan ini, Rasulullah menjanjikan, “Maka ia terhitung berjihad di jalan Allah Ta’ala.”

Demi Menjaga Diri dari Meminta-minta

Bahwa makanan terbaik bagi seorang hamba adalah yang halal, baik, dan hasil dari upaya tangannya. Sebab itu, Islam tidak menganjurkan kemalasan atau kelemahan dan menganjurkan umatnya agar kuat di segala bidang; akidah, ilmu, ekonomi, dan bidang lainnya. Maka sudah menjadi keutamaan bagi seseorang yang berupaya sepenuh hati untuk mencukupi kebutuhan dirinya dengan beragam cara, asal halal dan berniat menggapai ridha Allah Ta’ala.

Jika semangat ini terdapat dalam diri setiap umat Islam, maka tak ada yang namanya pengemis atau profesi peminta-peminta lainnya. [Pirman]

3 Comments

  • Al-Jufri 2 Mei 2015

    Ini adalah fakta…

  • king vidor 3 Mei 2015

    Ini baru Revolusi Mental

  • aan mahameru 8 Mei 2015

    Type here
    subhanalloh…semoga hamba dan keluarga hamba dan seluruh kaum muslim masuk syurga. ..aamiin…

Comments are closed.