Pernikahan

Untuk Apa Menikah?!

ilustrasi menikah © pinterest.com
ilustrasi menikah © pinterest.com

Entah apa sebabnya, untuk ibadah bernama menikah, banyak diantara kita yang amat menyukai berhitung. Padahal, sehari-harinya bukan seorang ahli ilmu hitung, pedagang ulung atau pengusaha nan sukses. Bahkan, diantara mereka banyak yang kerja apa adanya hingga pengangguran. Sungguh, aku tak tahu.

Sejatinya, tak masalah jika mereka lakukan itu semua demi kebaikan. Sebab segala sesuatu memang amat perlu disiapkan. Tak ubahnya sebuah perjalanan. Ketika diri hendak menuju suatu tempat, perlulah dipikirkan: Mau naik apa? Biayanya berapa? Kapan berangkat? Dengan siapa? Mau berapa lama? Bekal apa saja yang hendak dibawa? Kegiatan apa yang hendak dikerjakan? Dan sebagainya.

Itu logis. Sebab untuk akhirat saja, kita diminta untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Maka kita beribadah, untuk bekal selepas mati. Kemudian diri perbanyak amal, agar kelak tak tersesat dalam neraka yang menyala panasnya.

Aku tahu. Persis. Ada diantara mereka yang baik dalam persiapkan diri jelang menikah. Itu yang kemudian membuat sosok-sosok ini siap dan melangkah dengan gagah. Bukan, bukan karena sosoknya tak gamang. Tetapi karena ragunya tak jauh lebih besar dari niat dan semangatnya dalam sempurnakan separuh agama itu.

Sayangnya, sebagian yang lain berlaku sebaliknya. Mereka banyak bertanya dengan kata “untuk” bukan untuk persiapan, melainkan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin ragu. Duhai, meruginya mereka yang memiliki sifat sepicik ini. Padahal, menikah adalah perintah Allah Swt. Mungkinkah Dia menzalimi siapa yang melakukan perintah-Nya sepenuh hati?

Sebagai wujud ragunya itu, ia pun mengumpulkan sebanyak mungkin jawab buruk untuk tanyanya sendiri.

Maka, mereka sibuk bertanya, “Untuk apa menikah?” Kemudian, dirinya menjawab ragu, “Menikah untuk bahagia.” Dirinya itu, kemudian menukasi sendiri, “Bagaimana jika tak bahagia? Bukankah banyak yang menikah, kemudian bersedih sepanjang hari karena dipukuli dan dikhianati oleh pasangan hidupnya?”

Lagi, ditanyakan olehnya, “Untuk apa menikah?” Lantas, terjawablah, “Agar kau tak sendiri, agar harimu tak lagi sepi.” Sertamerta, ia meneroboskan jawab, sebelum diminta, “Kata siapa? Banyak pasangan yang menikah, tapi justru merasa bertambah sepi. Ia pisah dengan kerabat dan sahabatnya. Berdua dengan pasangannya. Ternyata, pasangannya sibuk dengan dunianya dan ia tak kuasa pergi. Jadi, lepas menikah, bertambahlah sepi yang menggelayut akut.”

Maka, percuma kau beri jawaban untuk mereka. Semakin banyak jawaban, maka makin melimpah pula alibi yang ia lahirkan.

Pun, saat kau jawab syahdu, “Saudaraku, menikah untuk ibadah.” Kemudian, simaklah jawabnya, lalu bersedihlah karenanya, “Kau tak perlu sok alim. Apalagi menasehatiku segala. Memangnya ibadah hanya menikah, hah?! Kau tak simakkah sejarah, banyak orang yang hebat dan mereka tak sempat menikah sebab sibuknya dalam amal lain.”

Belum usai, ia melanjutkan berapi-api, “Dengar, ya? Tak perlu mengguruiku. Aku tahu semua yang kaukata. Aku amat mengerti. Tapi ingat satu hal, ibadah banyak ragamnya. Banyak pilihannya kecuali yang wajib. Jadi, tanpa menikah pun, diri bisa tetap beribadah dan mendekat pada-Nya.”

Ya Rabbi, malangnya mereka. Moga Engkau kurniakan hidayah-Mu. Sebab batu, jika tak kuasa berlubang lantaran tetesan air, nampaknya ia lebih cocok untuk menjadi bahan bakar api neraka.

Ternyata, ia kembali menjawab, “Kau tak perlu lebay. Dirimu saja baru sekali menikah, kan?!” Ups. [Pirman]