Visi Misi Pernikahan

Dalam sebuah forum alumni, seluruh yang hadir serentak mengucapkan “Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin” ketika ada yang menyampaikan kabar rencana pernikahannya. Sebagian teman muslimah ikut memerah wajahnya sebab rasakan malu yang sama, dan temannya yang muslim penasaran tentang siapakah sosok lelaki yang beruntung menjadi suami dari teman sekolahnya itu.

Tiba-tiba, saat penutur kabar bahagia itu baru saja usai berkisah, terdengar tanya yang terlontar dari salah satu teman muslimahnya. Kata sang penanya yang lebar dan syar’i kerudungnya itu, “Apa visi misi pernikahanmu?”

Berselang detik, sosok yang dikenal sebagai ‘musuh’ debatnya saat sekolah dulu pun menimpali, “Kayak ujian calon ketua OSIS saja, pakai nanya visi misi?!”

Tawa renyah pun membahana di ruangan sederhana itu, kemudian hening sejenak sembari menunggu jawaban dari ‘terdakwa’. Sempat perlihatkan ekspresi bingung, yang ditanya pun menjawab lirih, malu-malu, dan salah tingkah. Katanya, “Apa ya…..” Lanjutnya disambut tawa hadirin, “Bikin anak kali ya?”

***

Di sebuah tempat kerja, salah satu karyawan yang baru saja memberitakan informasi pernikahannya pun mendapatkan ‘ujian’ dari sesamanya. Dalam obrolan ringan yang diselingi tawa, sosok yang dikenal sebagai Ustadz dalam obrolan itu menyampaikan, “Kalau bisa, nikahnya setelah bulan puasa.”

Tanya ia yang akan menikah, “Memang kalau sebelum puasa kenapa, Pak Ustadz?”

Jawab Ustadz teduh, “Rawan. Godaannya berat.”

Ketika hadirin lain memahami maksud Pak Ustadz, ia yang akan menyebar undangan dalam beberapa pekan ke depan bertanya lugu, “Memang kalau berhubungan badan di siang hari di Bulan Puasa gak boleh?”

***

Dua percakapan di atas hanyalah sampel. Sebuah fakta. Yang menjadi sebab, bisa jadi lantaran kurangnya ilmu yang dimiliki oleh pasangan yang hendak menikah. Dalam pikiran pendeknya, menikah hanya siklus, dan selesai dengan satu kata yang disalahtafsirkan menjadi “jalani saja”.

Padahal, ada ilmu yang kudu dimiliki jika seseorang hendak menikah. Ada pengetahuan yang kudu dicari, sebab pernikahan sama seperti ibadah lainnya; sebentuk cara pengabdian kepada Allah Ta’ala dan meneladani sunnah Nabi-Nya.

Maka, dalam menikah ada syarat dan rukun; ada sunnah-sunnah, keutamaan-keutamaan, dan juga larangan. Semua itu, hanya bisa didapati dengan belajar; baik membaca, berguru, berdiskusi, ataupun sarana lain, asal shahih sumbernya.

Ilmu inilah yang menjadi salah satu jaminan panjang-tidaknya, berkah-tidaknya, bahagia-tidaknya, sebuah pernikahan. Ilmu, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits; siapa yang kehendaki kebahagiaan dunia dan akhirat, maka harus memiliki ilmunya.

Pun, dalam pernikahan. Ada ilmu yang harus dipelajari dengan teori dan praktek tentang membahagiakan pasangan, komunikasi, keuangan, ibadah, saling mengingatkan dan banyak lagi yang lainnya. Karenanya, selepas menikah, seseorang harus semakin giat belajar, bukan sebaliknya.

Dengan ilmu ini, insya Allah, tak terdengar lagi jawaban “Bikin anak” saat ada yang bertanya “Apa visi misi pernikahanmu?” [Pirman]

Terbaru

- Advertisment -