Wanita yang Mau Diajak Hidup Sengsara setelah Nikah?!

“Hampir sebagian besar wanita,” tutur CEO Keke Busana dalam Sekolah Bisnis Dua Kodi Kartika, “mau dinikahi oleh laki-laki yang belum menjadi apa-apa.”

- Advertisement -

Yang dimaksud dengan belum menjadi apa-apa, ialah laki-laki yang miskin, belum memiliki pekerjaan yang menjanjikan, tampang pas-pasan, dan banyak kekurangan fisik (duniawi) lainnya.

Hampir semua wanita mau dinikahi oleh laki-laki jenis itu.

“Akan tetapi,” lanjut Kang Rendy dalam lanjutan video tersebut, “wanita tidak akan mau berada dalam kondisi tersebut selamanya. Harus ada perubahan. Harus ada perbaikan.”

Kaidah ini berlaku dalam segala bidang kehidupan, tidak terbatas pada bab menikah semata. Bahwa ada begitu banyak wanita baik-baik yang mau menerima laki-laki apa adanya sebagai calon suami.

Yang terpenting bagi sebagian wanita ialah kepastian. Keberanian. Bahwa laki-laki tersebut benar-benar bersedia menjadi imam bagi si wanita, mau berusaha agar menjadi lebih baik, dan komitmen-komitmen kebaikan lainnya.

Kondisi saat itu, hanyalah peralihan yang bisa diubah seiring berjalannya waktu.

- Advertisement -

Kita sebagai individu saja, tentu tidak menghendaki hidup yang datar-datar saja. Miskin permanen. Mengontrak rumah seumur hidup. Penghasilan stagnan. Hidup tanpa pertumbuhan. Dan kondisi-kondisi stagnan lainnya.

Kita tentu mendambakan perbaikan dalam hidup. Pekerjaan yang lebih menjanjikan. Gaji yang lebih dari cukup agar bisa memberi lebih banyak. Istri dan keluarga yang semakin baik. Dan diri serta orang-orang tercinta yang semakin dekat dengan Allah Ta’ala.

Maka kita, sebagai laki-laki atau suami pun harus bersikap demikian. Hendaknya kita berniat sungguh-sungguh untuk mengubah nasib, sebab ikhtiar merupakan salah satu ibadah yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala tepat setelah usai mendirikan shalat.

Kita harus meningkatkan kualitas diri sebagai seorang individu, karyawan, pekerja, pengusaha, atau apa pun agar kehidupan semakin membaik. Sebab mau tidak mau, zaman akan semakin berubah. Kebutuhan akan semakin meningkat.

Di antara alasan yang paling penting mengapa kita harus bertumbuh ialah kepastian bahwa kita akan mati. Kita akan mempertanggungjawabkan seluruh amal di hadapan Allah Ta’ala. Akankah kita hidup biasa-biasa saja dan mati hanya meninggalkan nama yang tertulis di batu nisan?

- Advertisement -

Sebab saat kita tidak bertumbuh, maknanya kita telah tertinggal. Karena ada jutaan bahkan miliaran orang yang bertambah baik seiring berjalannya waktu.

Jadi, gak masalah menikahi wanita dalam kondisi miskin. Asal jangan miskin permanen karena Anda malas bekerja sebagai suami.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]

- Advertisement -

2 KOMENTAR

Comments are closed.

Terbaru

Keutamaan Membaca Ayat Kursi di Malam Hari

Ada dua waktu istimewa di malam hari untuk membaca ayat kursi. Kedua-duanya memiliki fadhilah alias keutamaan yang istimewa. Dua...

Pengakuan Bantal, Saksi Bisu Gersangnya Hubungan

Judul Pengakuan Bantal ini mengadopsi tulisan Dr Karim Asy Syadzili dalam bukunya, Kado Pernikahan. Isinya telah dikembangkan agar lebih relevan dengan kondisi...

Mengapa Muslimah Dilarang Cerita Kecantikan Teman pada Suaminya?

“Mas, temanku si Anita itu cantik banget. Ia rajin facial. Pakai skincare mahal..” Pernah mendengar kalimat seperti ini? Atau jangan-jangan Anda sendiri pernah ngomong...

Ini 32 Dosa Suami yang Meresahkan Hati Istri

Pernikahan adalah ibadah paling panjang waktunya. Jika sholat hanya sekitar 6 menit, sehari semalam hanya setengah jam. Puasa yang sehari 14 jam pun, hanya...