15 Kriteria Suami Idaman (3)


Lanjutan dari 15 KRITERIA SUAMI IDAMAN (2)

Adil dalam Bersikap

Keadilan akan memicu munculnya suasana harmonis dalam rumah tangga. Adil dalam bertutur kata. Adil dalam bersikap. Tidak boleh berlebih-lebihan, apalagi semena-mena hingga termasuk dalam makna zalim. Termasuk dalam sikap adil ialah memberikan nafkah sesuai dengan tingkat penghasilan suami.

Suami yang bersikap adil juga tidak akan menzalimi istrinya. Ia mengetahui urgensi keadilan dan akan berjuang untuk mewujudkannya dengan sungguh-sungguh. Ia memahami bahwa keadilan lebih dekat kepada taqwa.

Berperangai Lembut

Kelembutan akan berpengaruh positif dalam semua suasana. Kelembutan meliputi perkataan dan perbuatan. Lembut dalam bertutur adalah kebahagiaan bagi istri dan anak-anaknya. Lembut dalam bersikap juga menjadi dambaan bagi seluruh anggota keluarga.

Laki-laki yang terbiasa berperilaku lembut tidak akan berlaku kasar kepada istrinya. Sebab sifat dan sikap itu bertentangan dengan dirinya. Jika dibingkai dengan Islam, kelembutan akan semakin memesona. Karena ada ganjaran pahala yang amat besar nilainya.

Tidak Kikir

Pilihlah suami yang dermawan. Memberikan kebutuhan sandang, pangan, dan papan secara layak kepada istri dan anak-anak. Ia mengetahui perkembangan harga, sehingga memberikan hak istri dengan baik tanpa melakukan kezaliman.

Seorang suami idaman juga akan melakukan konfirmasi terkait kebutuhan minimal istri dan anak-anaknya. Dia tidak akan menentukan sepihak. Dia akan berkomunikasi dan mencari jalan tengah jika penghasilannya belum mencukupi.

Sehat dalam Syahwat

Kebutuhan biologis adalah keharusan dalam rumah tangga. Ianya merupakan fitrah yang tidak bisa diingkari. Harus dipenuhi. Bagi para wanita, kehadiran suami yang sehat secara syahwat adalah keharusan. Sebab, tak ada toleransi baginya untuk menambah jumlah suami. Lain halnya dengan laki-laki yang bisa menambah istri hingga empat orang tanpa harus menceraikan istri pertamnya.

Jika seorang laki-laki tidak sehat secara syahwat, ia akan berpeluang menzalimi istrinya. Karena itu, para istri diberi hak untuk mengajukan cerai, atau bersabar sembari melakukan serangkaian pengobatan untuk suaminya.

Subur dan Suka Berketurunan

Sehat dalam syahwat tidaklah cukup. Seorang suami juga harus suka berketurunan. Apalagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan membanggakan jumlah umatnya, kelak di akhirat. Ketika seorang suami tidak suka memiliki keturunan, maka pemuasan nafsu biologisnya hanya bersifat syahwati, lebih menuruti setan dan cenderung tidak bertanggung jawab. Hanya mau enaknya.

Suka berketurunan ini juga menjadi pembeda Islam dengan agama lain yang mendukung kehidupan tanpa suami dan tanpa anak. Membujang, tapi melampiaskan kebutuhan syahwat secara zalim, baik melaui zina maupun hubungan pernikahan haram dengan sesama jenis kelamin. Na’udzubillahi min dzalik.

Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]