Pengasuhan

Ajarkan Sastra kepada Anakmu agar Ia Lembut Hati dan Pemberani

ajarkan sastra kepada anakmu

Sewaktu mengisi kajian di sebuah instansi pemerintah, panitia yang merupakan pegawai senior curhat soal pegawai-pegawai baru. “Mereka memang pintar, Ustadz. Melek teknologi. Namun, seperti kurang adab. Semua dianggap teman, meskipun secara usia jauh di atas mereka.”

“Pegawai baru sekarang muda-muda, Pak. Cuek-cuek mereka,” kata pegawai senior lain di instansi berbeda. Saya akrab dengan beliau sejak saya masih menjadi PNS dan waktu itu beliau masih eselon IV.

Sekilas, pegawai baru pada dua instansi itu memiliki dua kesamaan. Pertama, mereka sama-sama generasi Z yang lahir mulai tahun 1996. Kedua, selain memiliki banyak karakter positif, secara umum dari dua cerita di atas, mereka kurang santun dan kadang orang lain menilai kurang empatik.

Faktor apa yang menyebabkan demikian dan bagaimana solusinya? Agar secara umum generasi Z yang kreatif dan mandiri menjadi lebih lembut hati. Termasuk secara khusus anak-anak kita yang lahir hingga tahun 2010.

Saya kemudian terpikir tentang sastra. Apakah kurangnya minat terhadap sastra membuat mereka kurang santun dan lembut hatinya? Memang ada data bahwa generasi Z ini kurang berminat terhadap sastra. Setidaknya beberapa media termasuk Republika pernah memuat laporannya. Generasi Z yang merupakan digital native hampir tidak lepas dari gadget. Mereka banyak menonton Youtube dan aktif di media sosial tetapi secara umum mereka menilai sastra itu untuk orang-orang tua.

Sastra Melembutkan Hati

Banyak cara untuk melembutkan hati. Satu di antaranya adalah dengan mempelajari sastra. Bagi kita umat Islam, yang paling bisa melembutkan hati tentu adalah Al-Qur’an. Hingga Umar bin Khattab yang semula temperamen pun menjadi sosok tegas yang paling lembut hati.

Namun, bukankah Al-Qur’an adalah kitab dengan sastra tertinggi? Buku apa yang bisa melebihi ketinggian sastra Al-Qur’an?

Buya Hamka mengakui pengaruh sastra dalam melembutkan hati. Bahkan beliau mengatakan, “Sesuatu yang dibutuhkan untuk menghaluskan jiwa adalah seni dan sastra.”

Buya Hamka sendiri adalah seorang ulama dan sastrawan. Sewaktu muda, beliau adalah sastrawan bercorak Islam yang terkenal dengan roman (novel) dan puisinya. Bertambah usia, beliau menjadi ulama yang sastrawan. Beliau produktif menulis buku-buku Islam hingga Tafsir Al-Azhar dengan bahasa yang penuh sentuhan sastra.

Maka untuk kita yang sudah menjadi orang tua, sudahkah mengajarkan sastra kepada anak-anak kita? Sudahkah memfasilitasi mereka dengan bacaan sastra? Dukungan dan fasilitas ini sangat penting. Sayangnya, lingkungan dan lembaga pendidikan kita tidak cukup memadai.

Pada 2014 lalu, sewaktu masih menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan mengatakan, jumlah bacaan sastra anak-anak SMP dan SMA masih sangat minim dari seharusnya. Hingga sekarang, hal ini masih menjadi problematika bersama terutama pemerintah pusat dan daerah. Orang tua bisa menjadi solusi dengan mengalihkan sebagian dana keluarga daripada untuk top up game, lebih baik membeli buku-buku sastra.

Baca juga: Generasi Home Service

Sastra Mengubah Pengecut Jadi Pemberani

Tak hanya melembutkan hati, sastra juga bisa mengubah seorang anak yang pengecut menjadi pemberani. Sebagaimana kata Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. “Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena sastra bisa mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.”

Umar sendiri adalah sosok yang menyukai syair. Bahkan ia seorang ahli syair. Dalam banyak kesempatan, Umar mengungkapkan perasaannya melalui syair. Tentu yang ia gemari setelah masuk Islam adalah syair-syair kepahlawanan. Syair-syair yang mengungkapkan makna kehidupan. Syair-syair yang menebarkan nilai-nilai Islam. Sehingga orang yang mendengarnya menjadi lebih lembut hati sekaligus berani memperjuangkan nilai-nilai yang ia yakini.

Baca juga: Adab Bergaul dengan Lawan Jenis

Sastra yang Bagaimana?

Sastra seperti apa yang mampu melembutkan hati dan mengubah pengecut menjadi pemberani? Sebab ada juga karya yang disebut sastra tetapi isinya cabul dan membuat manusia justru menjadi budak nafsu. Bukan, sastra sejati tidak seperti itu.

Horace mengatakan fungsi sastra adalah Dulce el Utile. Indah dan bermanfaat. Bahasa sastra adalah bahasa estetik melembutkan hati dan menghaluskan budi. Sastra mampu mentransformasikan ide yang rumit menjadi lebih estetik dan mudah dipahami. Sastra membuat seseorang terbiasa mengungkapkan ide dan perasaan dengan keindahan dan kesantunan. Menyebarkan pesan dan nilai-nilai dengan sebaik-baik diksi sehingga tidak terkesan menggurui.

Sastra juga harus mengandung pesan yang bermanfaat untuk masyarakat. Sastra harus memiliki fungsi mencerahkan dan memperbaiki tatanan kehidupan. Tak hanya indah dalam bahasa tetapi juga memiliki kandungan makna yang bernilai guna. Bagi umat Islam, sastra harus memiliki karakteristik ta’abbudi (ibadah) dan tafaqquhi (keilmuan).

Dua fungsi dan dua karakteristik ini ada dalam sastra Islam dan sastra pesantren. Keduanya memiliki banyak kesamaan. Bahkan sastra pesantren merupakan bagian dari sastra Islam. Bedanya, penulis sastra pesantren adalah orang pesantren baik kiai, santri, maupun alumni pesantren. Sastra pesantren mengangkat tema-tema tentang pesantren baik dalam penokohan (misalnya menceritakan kiai atau santri), bisa pula latar tempatnya adalah pesantren. Tentu isi dan pesannya tidak lepas ajaran pesantren.

Contoh sastra pesantren di zaman modern adalah karya-karya Habiburrohman El Shirazy seperti Kembara Rindu dan Suluh Rindu. Contoh sastra Islam adalah karya-karya Helvy Triasa Rosa seperti Ketika Mas Gagah Pergi dan Hayya.

Selain keduanya, sastra umum yang menyuguhkan nilai-nilai universal juga cukup ampuh dalam melemputkan hati dan mengubah anak pengecut menjadi pemberani. Misalnya novel-novel karya Tere Liye. [Muchlisin BK/KeluargaCinta]