Pernikahan

Ilmu yang Harus Dipersiapkan Menjelang Pernikahan

Setelah kualitas ruhani yang prima, faktor penting yang menunjang bahagia dan berkah dalam kehidupan rumah tangga adalah ilmu yang benar dan kesungguhan untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena banyaknya cabang ilmu penunjang kebahagiaan dan keberkahan rumah tangga, ilmu apa saja yang harus diprioritaskan untuk dipelajari?

Ada yang mengatakan bahwa ilmu terpenting dalam menjalani kehidupan rumah tangga adalah komunikasi yang efektif. Sedangkan kelompok yang lainnya menyebutkan ilmu ekonomi sebagai yang paling utama. Semakin banyak merujuk, maka semakin banyak pula jawaban yang kita dapatkan.

Sebagai seorang muslim, ilmu dikategorikan menjadi; Firman Allah Ta’ala dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dari dua ilmu tersebut, panduan yang harus senantiasa dicermati adalah al-Qur’an al-Karim, sunnah Rasul, dan atsar para sahabat serta ulama setelahnya sebagai pewaris para Nabi yang mulia.

Dua jenis ilmu inilah yang dijamin kebenarannya dari Allah Ta’ala Sang Pencipta. Di dalamnya terdapat banyak sekali panduan bagi siapa saja yang hendak menikah kemudian menjalani kehidupan amat dinamis bernama rumah tangga.

Pasalnya, menikah adalah perintah Allah Ta’ala. Karena itu, Dia pun telah mempersiapkan segala macam hal yang dibutuhkan oleh hamba-hamba-Nya yang hendak bersungguh-sungguh untuk menyempurnakan separuh agama ini.

Sebab Firman Allah Ta’ala ini tidak disajikan secara detail. Maka, kita membutuhkan contoh langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebab, beliau dan generasinya adalah sosok terbaik dalam mengejawantahkan makna al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Selain dijamin kebenarannya, ilmu rumah tangga yang berasal dari Firman Allah dan sunnah Rasulullah ini sangatlah aplikatif. Pasalnya, Rasulullah adalah bujang yang sangat mandiri sebelum pernikahannya, tidak pernah terlibat dalam keburukan individu atau kolektif yang dilakukan masyarakatnya, suami idaman yang tidak pernah digugat cerai oleh banyak istrinya, ayah teladan bagi empat putri dan tiga putranya, kakek yang amat dirindukan oleh cucu-cucunya yang akhirnya menjadi Khalifah kaum Muslimin, sosok menantu yang amat disayang mertuanya, dan mertua yang sangat menyayangi dan membimbing menantunya menjadi sosok idaman bagi pasangannya.

Maka, inilah teladan terbaik yang mustahil dijumpai tandingannya hingga akhir zaman kelak. Siapa yang bersungguh-sungguh meneladaninya terkait rumah tangga Rabbani, baginya janji bahagia, berkah, dan ganjaran di akhirat kelak. Sebaliknya, siapa saja yang enggan bahkan beralasan atau menolak menjadikannya sebagai panduan, kepada siapa lagi hendak mencari contoh di akhir zaman yang makin kering dengan inspirasi kebaikan ini? [Pirman/Keluargacinta]