Mengapa Pernikahan Kita Tidak Berkah?

Keberkahan adalah dambaan bagi setiap Muslimin yang menikah. Sebab ia bermakna bertambahnya kebaikan. Sebab berkah menjadi kunci sukses bagi sebuah rumah tangga hingga semua yang berada di bahteranya masuk surga. Bahagia bersama. Kekal di dalamnya.

Sayangnya, berkah dalam pernikahan itu misteri. Sangat rahasia. Tiada satu pun yang mengetahui, apakah pernikahannya diberkahi atau tidak. Anda, misalnya, mampukah menjawab saat ditanya, “Apakah pernikahanmu diberkahi?”

Kunci Utama

Ialah niat. Mengapa menikah? Untuk apa menikah? Bagaimana memantaskan diri? Bagaimana menentukan calon? Bagaimana menjemput calon? Bagaimana prosesi di dalam perkenalan, pernikahan, hingga proses setelah akad nikah, malam pertama misalnya.

Tatkala niat menikah cacat, kunci utamanya rusak. Akibatnya, menikah bukan lagi ibadah. Menikah tidak berjalan sebagaimana awal disyariatkannya. Di tahap ini, menikah hanya menjadi kedok penutup malu. Meski calon memiliki banyak catatan, pernikahan tetap harus dilaksanakan. Sebab, si wanita sudah hamil. Anak sudah ‘dicetak’ sebelum akad terucap.

Mungkinkah ada berkah jika awal mulanya sudah seperti ini? Mungkinkah? Jika ‘berkah’, siapa yang menjaminnya?

Agar berkah, benahi niatnya. Menikahlah karena Allah Ta’ala. Menikahlah dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.

Jika pun pernah salah di awal, jangan pernah putus asa. Bertaubatlah. Kembalilah ke jalan Allah Ta’ala dengan sebenar-benarnya taubat. Hanya dengan itu keberkahan akan muncul perlahan-lahan karena iman yang diperbarui.

Jika menolak akui keliru, bersiap-siaplah untuk jumpai akibat lain yang lebih berat. Na’udzubillah.

Proses

Apakah Anda mencari calon istri atau suami di keramaian sejenis tempat hiburan? Apakah pertama kali mengenal calon pasangan di pusat perbelanjaan? Apakah menemukannya dalam forum kajian? Apakah pertama jumpa dengannya di masjid dalam acara tabligh akbar, dzikir, atau i’tikaf Ramadhan?

Setelah pertemuan pertama, apa yang Anda lakukan? Apakah bergegas mendatangi wali dan menanyakan keluarganya karena sudah siap, atau mencoba terlebih dahulu secara diam-diam lantaran sudah tak kuat menahan kebelet?

Apakah setelah jumpah pertama itu, dan memang Anda belum mampu, ada kesungguhan untuk memperbaiki diri hingga layak bersanding dengannya? Apakah Anda benar-benar memohon kepada Allah Ta’ala agar layak bersanding dengannya atas nama cinta kepada-Nya?

Berlanjut ke Mengapa Pernikahan Kita Tidak Berkah? (2)

Terbaru

Baca Ayat Kursi, Mimpi Buruk Pergi dan Bangun pun Lebih Pagi

“Ummi, Hamzah nggak mau mimpi.” Tiba-tiba anak ketiga kami mengadu. Waktu itu ia masih duduk di bangku Playgroup. Setelah ngobrol lebih lanjut,...

Meski Sudah Berkeluarga, Jangan Pernah Lupakan Ibu

Jika ada 1000 orang yang mencintaimu, akulah yang pertama.Jika ada 100 orang yang mencintaimu, akulah yang pertama.Jika ada 10 orang yang mencintaimu,...

Bahagiakan Keluarga di Hari Asyura, Niscaya Kau Bahagia Sepanjang Tahun

Membahagiakan keluarga tak perlu menunggu waktu tertentu. Tapi membahagiakan keluarga di hari asyura bernilai spesial. Sebab ada hadits yang menyebutkan, ia akan...

Dosa Ghibah Lebih Berat dari Zina? Baca Hadits-Hadits Ini

Ghibah bukanlah dosa yang remeh. Para ulama memasukkannya dalam kategori al kabair; dosa-dosa besar. Bahkan ada yang menyebut, dosa ghibah lebih berat...