Persetujuan dan Doa Nabi untuk Sahabat yang Menikahi Janda

0
ilustrasi @blog.aku-muslim
ilustrasi @blog.aku-muslim
ilustrasi @blog.aku-muslim

Salah satu perbincangan yang beredar hangat di kalangan masyarakat adalah tentang dengan siapakah seseorang menikah. Apakah seorang perempuan menikah dengan duda atau lajang? Ataukah seorang pemuda memilih gadis atau janda untuk menemani sisa hidupnya?

Sebelum memberi kesimpulan, mari sejenak untuk beranjak ke belakang, melihat pada salah satu episode kehidupan sahabat Nabi Muhammad Saw yang mulia.

Abdullah wafat. Di antara anak yang ditinggalkannya adalah Jabir. Ketika wafat, Abdullah meninggalkan anak yang banyak. Ada sebuah riwayat menyebut tujuh anak perempuan, ada juga yang menyampaikan sembilan anak.

Nabi Saw bertanya kepada Jabir bin Abdullah, “Apakah kamu sudah menikah?” Jabir yang ditanya menjawab, “Sudah, ya Rasulullah.”

Nabi melanjutkan, “Dengan gadis atau janda?” Ini adalah pertanyaan Nabi yang diikuti penjelasan. Pasalnya, dalam banyak riwayat, beliau banyak menyarankan sahabat dan umatnya untuk menikahi janda yang memiliki sekian banyak kelebihan. Meskipun, dalam sejarah kehidupan beliau, dari sekian banyaknya istri Nabi, hanya satu yang dinikahinya ketika masih perawan.

Jabir pun menjawab, “Dengan seorang janda, ya Rasulullah.” Seakan menegaskan bahwa beliau hendak mengajarkan hal penting kepada umatnya, Nabi bertanya, “Mengapa engkau tidak menikah dengan seorang gadis?” Nabi kemudian menjelaskan, menikah dengan seorang gadis, maka seseorang bisa bercumbu atau bercanda dengan istrinya itu, pun sebaliknya.

Sebab ditanya, Jabir pun menjelaskan, “Ayahku (Abdullah) wafat dengan meninggalkan banyak anak perempuan,” jelasnya. “Maka,” lanjutnya, “aku tidak ingin menikahi wanita yang seumuran dengan mereka.”

Jabir menambahkan, “Aku lebih suka menikah dengan seorang wanita yang bisa mengurus dan membuat mereka menjadi lebih baik.” Demikianlah penjelasan Jabir. Niatnya amat mulia. Ada maksud baik di balik keputusan yang diambilnya.

Setelah mendengar penuturan sahabatnya itu, Rasulullah Saw berdoa, “Semoga Allah memberkahimu.”

Baarakallahu lak. Itulah doa nabi untuk sahabatnya yang menikahi seorang janda. Sebuah doa yang melambangkan persetujuan dan harapan baik.

Dari kisah nan mulia ini, satu hal yang harus diingat baik-baik adalah tentang sunnah menikah itu sendiri. Bahwa yang menjadi sunnah adalah menikahnya, bukan dengan siapa menikah. Siapa menikah dengan janda, maka itu sunnah. Jika memilih perawan, itu juga sunnah. Asal, pernikahan dilakukan sesuai syariat Islam dengan niat beribadah kepada Allah Ta’ala.

Maka, dengan gadis atau janda tak menjadi masalah. Sebab, masing-masing orang memiliki pertimbangan dan kecenderungan masing-masing. Asalkan tidak sesama jenis atau berbeda agama.

Adakah yang belum menikah? Atau bingung untuk memilih gadis atau janda? Moga riwayat ini tak disalahmaknai. [Pirman]