Tujuh Kiat Keluarga Bahagia (Bagian 2)


ilustrasi @alimoel
ilustrasi @alimoel

[notice]

Artikel ini merupakan kelanjutan dari Tujuh Kiat Keluarga Bahagia
[/notice]

4. Win-win bukan Menang-menangan

Permasalahan keluarga biasanya berdampak panjang dan menghasilkan banyak derivasi. Bisa jadi solusi dari permasalahan tersebut menguntungkan salah satu pihak, namun merugikan bagi pihak lain.

Dalam tahap inilah, masing-masing pihak harus mengupayakan yang terbaik. Caranya bukan dengan menang-menangan (merasa kepingin menang), tetapi harus mencari solusi bersama yang menguntungkan semua pihak. Caranya, diantaranya, tundukan egoisme dan berpikir dingin demi kebaikan bersama.

5. Ke Depan bukan Ke Belakang

Visioner juga amat diperlukan dalam berumahtangga. Maknanya merencanakan yang terbaik, melakukan sekuat mampu dan serahkan hasil kepada Yang Mahakuasa. Tentunya, dalam tiap jenak harus ada aksi yang optimal, sehingga niat dan cara yang baik tetap terjaga sesuai yang diharapkan.

Melihat ke belakang amat dibolehkan. Tapi hanya sesekali, jangan sampai mendominasi. Jika selalu melihat ke belakang (mengungkit masa lalu), yang terjadi –bisa jadi- bukan mendapat solusi, melainkan membuka luka lama dan mengizinkan masalah baru yang lebih besar untuk masuk ke dalam kehidupan keluarga kita.

6. Dibuang bukan Dipendam

Ketika ada kenangan buruk, ada baiknya untuk dibuang. Hindari memendam masalah sekecil apa pun. Upayakan ketuntasan dalam setiap bahasan. Sehingga, masalah yang sudah kelar tidak akan dibahas lagi di waktu dan kesempatan lain.

Bahaya memendam masalah, ibarat gunung yang menyimpan material panas di dalamnya. Ketika sudah memuncak dan meletus, akibat buruknya akan dirasakan oleh banyak pihak di sekelilingnya. Dalam tahap ini, keterbukaan juga amat penting. Apalagi, suami istri adalah satu ikatan. Meskipun, dalam hal-hal tertentu, terkait sesuatu yang amat rahasia –ketika berdampak baik-, maka hal itu boleh untuk tidak dibuka kepada pasangan.

7. Usaha bukan Hasil

Orientasi terhadap hasil amat dibolehkan. Asal tidak menghalalkan cara yang haram. Sebab sampai kapan pun, berproses adalah yang terbaik dan terkandung banyak hikmah di dalamnya.

Hasil amat penting ketika ia terjaga prosesnya; diawal sejak dimulai, ketika berlangsung dan selepasnya. Ini untuk memastikan bahwa semuanya berjalan sesuai rel kebaikan yang memang berlaku.

Orientasi ini menjadi sangat penting sebab tidak semua yang kita rencanakan dan usahakan berhasil secara gemilang. Karena Yang Mahakuasa selalu memiliki cara untuk menguji semua hamba-Nya. [Pirman]