Tujuh Kiat Keluarga Bahagia

0
ilustrasi @121clicks
ilustrasi @121clicks
ilustrasi @121clicks

Berumahtangga ada seninya. Menikah ada ilmunya. Ilmu terkait rumahtangga bisa didaptkan dari sumber inspirasi Kitab Suci, panduan Nabi maupun dari mereka yang sudah berpengalaman menjalani bahtera pernikahannya.

Dalam tulisan ini, Keluarga Cinta akan membagi tujuh kiat agar warna rumahtangga menjadi cerah, ceria, sumringah, bahagia nan barakah. Kiat ini inspirasinya kami dapatkan dari pengalaman Ustadz Muhaimin Iqbal yang telah menjalani kehidupan berkeluarga lebih dari 25 tahun. Beliau membagikan kiatnya itu di dalam buku Menikah Memuliakan Sunnah.

1. Suasana bukan Benda

Ada anggapan yang salah dari kebanyakan pasangan suami istri. Ada diantara mereka yang mengira bahwa bahagia dalam rumahnya tergantung pada benda. Alhasil, mereka mengerahkan sebagian besar potensinya untuk membeli dan mengoleksi sebanyak mungkin benda-benda mewah dan melangit harganya di rumahnya.

Padahal, benda-benda itu, selama bukan kebutuhan pokok, maka keberadaannya sama sekali tak menjamin bahagia-barakah. Kebahagiaan bagi pasangan suami-istri lebih pada adanya suasana diantara keduanya. Ketika mereka pandai mensyukuri semua yang dikaruniakan oleh Allah Swt, maha bahagi-barakah akan diperolehnya. Jika tidak, suasana sebaliknya pun akan berlaku.

2. Berbagi bukan Memberi

Memberi memang pekerjaan para pecinta. Dalam hubungan suami-istri, memberi bisa menjadi sebuah sarana untuk saling menautkan hati pasangan kepada pasangannya. Namun, dalam tahap tertentu, memberi jika dilakukan terus menerus amatlah melelahkan, jika tidak ada kata saling di dalamnya.

Maka saling memberi bermakna berbagi. Berbagi kebaikan, cinta, kasih, sayang, perhatian dan sebagainya. Ketika dalam rumahtangga sudah menyadari arti berbagi ini, maka bahagia-barakah akan datang dengan sendirinya.

3. Kini bukan Nanti

Diantara kiat bahagia adalah tidak sibuk dengan apa yang akan terjadi esok hari. Hal ini bukan bermakna tidak memikirkan masa depan. Tetapi lebih pada adanya fokus dengan apa yang ada dan mensyukuri setiap karunia hari ini untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyambut esok.

Rumahtangga yang terlalu sibuk memikirkan esok hari, sejatinya telah menyiksa dirinya sendiri. pasalnya, perkara esok sama sekali bukan urusan kita. Kita hanya diminta untuk berupaya sebaik mungkin. Dengan begitu, Yang Mahakuasa akan memberikan apa yang terbaik menurut-Nya.

Yang terbaik tidak selalu berbentuk sesuatu yang kita sukai. Tetapi lebih pada apa yang kita butuhkan. Sibuk dengan kini sama dengan fokus pada apa yang ada dan merencanakan yang terbaik untuk esok hari.

303Baca kelanjutannya di

7 Kiat Keluarga Bahagia (2)